Praktek Metode KonMari Tahap 1 : Pakaian

Sebagai kelanjutan dari review kemarin, ingin sharing pengalamanku dalam menerapkan Metode KonMari. Tentunya semua orang memiliki pengalaman berbeda-beda dalam mempraktekkan sebuah cara.  Jadi bagaimana rasanya?


The Art of Discarding

Tahap pertama metode ini kita harus melakukan discarding. Istilahnya memang membuang, tapi pada praktek pilihan lain adalah menyumbangkan kepada orang yang membutuhkan.

Wajar bila ada rasa berat yang muncul di hati. Itu juga kualami. Timbul karena kita merasa sayang barang, menganggap valuable goods itu harusnya punya nilai tukar, minimal bisa jadi hadiah bagi orang terdekat.

Marie Kondo tidak menyarankan “menyumbang” barang kita pada anggota keluarga dengan alasan ini, kecuali bila penerima. memang benar-benar suka.  Kenapa demikian?  Karena menurut pengalamannya, anggota keluarga (biasanya adik), terpaksa menerima barang lungsuran dengan separuh hati. Akhirnya yang terjadi adalah kita hanya memindahkan “tumpukan” ke lemari di kamar atau rumah orang lain

Di buku Metode KonMari juga tidak menyebut opsi menjual, kecuali bila itu bisa dilakukan selekasnya. Karena kekuatan tahap discarding yang cepat akan menghasilkan efek  shock therapy yang membuat kita bersemangat memasuki tahap-tahap berikutnya.

Pada kasusku, kebetulan sekali jatuh pada bulan puasa, sehingga pilihan menyumbangkan mulus dijalankan.

Does it “Spark Joy?”

Urutan awal dari discarding ini dimulai dari pakaian.

Apa saja yang harus dipersiapkan? Hanya satu jenis : banyak kantung besar!  Sebaiknya yang berwarna gelap, supaya kita nggak tergoda untuk melirik  lalu membongkar ulang.

Yang dimaksud pakaian adalah segala hal yang menyangkut fesyen kita, ya. Jadi termasuk ikat pinggang, tas, sepatu, dsb.

Pada tahap pakaian ini aku memulai dengan menebar semua pakaian di lantai (kecuali yang sedang di laundry).  Dari sana, mensortir satu persatu, dengan  memilih mana barang yang memunculkan “spark joy”. Caranya memang terdengar lucu, kurang lebih seperti ini :

Raba, kemudian dekap barang itu, simak bagaimana perasaan yang muncul. Apakah berjengit senang atau merasa berat seperti ditarik bumi? Bila yang pertama, simpan. Jika yang kedua, masukkan ke kantong.

Ternyata berjalan baik. Tidak sampai satu jam aku berhasil memilah-milah masuk ke kantung besar. Setelah ditelaah, ternyata selalu ada pakaian yang kupikir layak di simpan ternyata tidak  “spark joy”.

Kantong plastik hitam,sehingga kita tidak tergoda untuk intip-intip lagi.

Sekarang, aku paham mengapa pakaian dimasukkan ke tahap pertama. Karena memang paling mudah. Kita mudah memahami sebuah baju sudah out of date, baju yang dimiliki- tapi kemudian tak terpakai, beli sekedar penasaran, atau….itu adalah hadiah dari orang lain yang kita rasa kurang cocok di hati.

Padahal menurut Marie Kondo, barang menganggur itu sia-sia fungsinya. Dengan mengalih fungsikan barang itu kepada orang lain kita akan mencegah adanya barang yang menumpuk dan tersia-sia. Bagus, bukan?

Hanya barang layak pakai yang disumbangkan. Sisanya….discard.

Oya, menurut Marie Kondo jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada barang tersebut sebelum masuk ke kantong.  Ini berlandaskan kepercayaan dalam budaya Jepang. Kalau aku, menyesuaikannya dengan cara berucap bersyukur saja kepada Tuhan. Intinya kita harus menghargai segala pemberianNya, yang fungsinya sudah berjalan. Berdialog pada diri sendiri agar ikhlas melepaskan.

Kemudian, setelah selesai dengan buntalan-buntalan, giliran merapikan kembali pakaian-pakaian yang kuputuskan untuk disimpan, dengan mengikuti cara melipat ala Marie Kondo.

Rumusannya adalah lipatan dibagi dua seperti menggulung, tetapi bila dilihat dari samping, menghasilkan bentuk segitiga sama kaki yang ramping, sehingga bisa dibuat berdiri tegak. Lihat di video.

Basic folding dari kamisol sampai kaos kaki. 

 
Melipat pakaian dalam untuk dimasukkan dalam laci. 
Cepat dan cantik.

Hasilnya, memang hemat space sekali dan lebih menarik, mirip penataan merchandising yang sering kulihat di toko-toko pakaian. Menurutku juga akan lebih mudah bila kita memiliki laci-laci sebagai penyimpanan, sekat-sekat, atau plastik jala pemisah.

Untuk baju-baju yang digantung, diurut  dengan baju yang paling spark joy dimulai dari sebelah kiri, yang paling kurang akan jatuh di sebelah kanan. Lebih gampang kan?

Apakah kamu pernah menyortir pakaian di lemarimu? Sulitkah?


Image : Kovacs Laszlo for FI

23 thoughts on “Praktek Metode KonMari Tahap 1 : Pakaian

    1. selamat mencoba mak Inna…hihi…biar bisa dipake lagi kalau kurus itu semua harapan kita wanitah…

  1. Bagus banget postingannya, saya baru tau Mba.
    Iyaaa, kadang aku berat melepas pakaian yg udah lama. Kadang kepikiran ntar ah dipake pas udah langsing. Kapan langsingnya coba? hahahaha.

    1. terima kasih, haha, iya itu aku juga pernah mengalami masa itu, kusebut masa denial…
      mungkin pakaian yg dimaksud lbh kuat unsur barang nostalgianya…jadi harus disisihkan dulu, kalau tdk sanggup discard

  2. Tahun lalu saya sortir pakaian di lemari, kebanyakan mikir “ini sayang, ini masih bisa dipakai, ini buat summer masihh oke, buat winter didobel dll” hasilnya lemari tetap aja penuh krn hanya buang sedikit pakaian haha 😀 .

    1. Ah..tetap ada perasaan seperti itu ya walau di negara 4 musim perputaran fesyennya terasa dan kuat banget.
      Asal yang masuk sedikit nggak apa-apa mbak.Kalau kemarin karena sayang2an, lemariku mau “meledak” jadi harus keluar banyak…ternyata banyak pakaian yang cuma ngekos saja di lemari ahaha

  3. Saya udah baca ttg konmari, udah lama. Mau praktekin gak jadi-jadi, heuheu bukan gak ada waktu tapi belum berani huhuhu

  4. Sama-sama mbak…anaknya usia berapa? Kalau sudah agak besar bisa diajarkan mensortir sendiri. Beda spark joy pemilik dan ortunya…malah ada saran ketika kita beberes sebaiknya ortunya jangan ada hehe..karena nanti diambil alih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *