Simplicity is Not Scary

Ada yang bilang bahwa seorang perempuan itu kompleks soal printilan sampai dia bertemu dengan seorang laki-laki. Benarkah? Sangat mungkin terjadi. Walaupun tentu saja, ada beberapa kasus kebalikannya.

Itu hanya persamaan sudut pandang. Apa persepsi seseorang tentang kepraktisan dan keringkasan. Biasanya, sih laki-laki memang lebih praktis. Bet-bet-bet, selesai, begitu. Selain kebutuhan sehari-harinya lebih sedikit juga. Oh, tidak, kita nggak ngomong soal hobbyist dulu ya.

Miliki Obsesi Meringkas

Bagaimana supaya perempuan bisa sama ringkas atau malah lebih ringkas dari pada laki-laki? Mungkinkah terjadi?

Pemikiran itu menggelitik pikiran sehari-hari.

Tidak, saat masih duduk dibangku kuliah, pertanyaan itu datang juga dalam bentuk berbeda di kepalaku.   Kurang lebih seperti ini :  

Bagaimana caranya membuat hidup lebih ringkas, lebih sederhana dan gampang? 

Bahkan dalam rangka memenuhi keingintahuan, sempat membeli sebuah buku yang judulnya “gue banget” yaitu “Simplify Your Life”. Itu adalah buku pertama yang menjadi pedoman dalam memerangi kompleksitas kehidupan manusia.
41LTfAp9IvL._SX258_BO1,204,203,200_
Aku mencoba berbagai hal, seperti memilih segala sesuatu dalam bentuk yang lebih kecil dari yang lain. Tas lebih kecil, laptop lebih kecil, gadget lebih kecil, dsb. Tetapi hasilnya adalah yang kecil-kecil itu kenapa malah jadi banyak, ya? Ternyata meringkas dan membuat hidup jadi mudah tidak selalu berarti serba micro, mini, atau minimalis.
Kemudian aku mencoba membuat semacam tingkat kebutuhan. Yang tidak perlu-perlu amat akan dicoret. Sayangnya, ada suara-suara yang suka “ikut campur” saat pemilahan. Seperti memberi berbagai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan. Akhirnya yang terpilah cuma sekitar 10% keluar dari list.

Semuanya dirasa penting?  Pernah kamu juga merasa demikian?

Bayangan Akan Sering Berpindah

Hingga datanglah hari dimana aku harus nomaden, berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain.
Saat itu mulai terjadi “penyortiran” alami segala hal yang perlu dan tidak perlu. Bagaimanapun aku tidak mungkin pergi seperti pasar berjalan, bukan? Dari sebuah kopor besar bertransformasi jadi kecil. Sekian dus berkurang menjadi dibawah 5 saja.
Akhirnya menemukan semacam formula baru. Bayangkan bila anda besok akan pindah-pindahan. Apakah mau membawa semua barang yang sampai menimpa pikiran anda berton-ton? Bilamana darurat?
Ini seperti bangsa Jepang ketika mempersiapkan kemungkinan untuk melarikan diri dari gempa. Mereka sudah menyiapkan tas yang tersedia cukup rapih di sebuah tempat. Isinya lengkap dengan segala hal untuk kebutuhan keselamatan.

Kita harus berpikir seperti itu.

Fase Berkeluarga

Namun saat berkeluarga, semua akan kembali ke 0, terutama dengan kehadiran anak. Seperti yang kita tahu, anak adalah makhluk yang di awal-awal kehidupan suka sekali bereksplorasi. Dengan kata lain…….semua kembali menjadi kurang ringkas dan rapih kembali. Terutama mamahmud. Learning by doing. Akupun harus kembali menemukan cara. Untungnya akhirnya  memang ketemu satu cara, dua cara, tiga cara, dsb.
gadget
Apalagi kita hidup di era gadget yang sudah menjadi bagian dari keseharian. Membuat apa yang ada di depan mata suka tidak tampak. Dan bila kukilas balik buku “Simpifly Your Life” tidak ada visi sama sekali tentang era ini!!

Bertambah rumit bila seseorang itu tinggal di sebuah kota metropolis. Berasa nggak, sih, kalau melihat yang semrawut pikiran juga ikut kusut sampai kantor atau saat pulang ke rumah?

Selalu Mencari Referensi Baru

Tidak bisa dihindari, dalam hidup kita harus selalu beralih kepada banyak referensi baru. Semua referensi itu akhirnya ada di bagiannya masing-masing. Soal merampingkan medsos sendiri, soal home and leisure sendiri, juga soal psikis dengan sedikit psiko-analisis rumit.

Nah, yang terakhir ini,  ternyata, kalau masalahnya psikis, pemecahan tidak selalu dimulai dari psikis juga.  Untuk mengubah sesuatu yang diperlukan hanya sundulan pertama ke bagian dari sekumpulan permasalahan.

Pada Akhirnya…..

Aku memutuskan membahas semua di blog. Sepertinya menarik, agar bisa berbagi, karena dengan demikian akan ada ilmu yang masuk juga. Selalu demikian hukumnya.

Apakah kamu termasuk orang yang suka ringkas atau senang berada dalam segala hal yang lengkap?
Bayangan tentang keringkasan menyenangkan atau menakutkanmu?
image : pixabay.com, simon gray for FI

6 thoughts on “Simplicity is Not Scary

  1. Haaaiiio salam kenal, tadi dah mampir di wordpress.com nya hehe.

    Eeh ternyata membahas hidup minimalis atau simplicity. Salam kenal Mba

    1. salam kenal mas diptra, makasih sudah mampir-mampir ya..
      iya disini salah satunya bahas gaya hidup minimalis..:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *